Tolong dan Terima Kasih


Islamedia -Pengalaman bekerja dengan orang Jepang ada sisi yang cukup menarik untuk saya ambil pelajaran. Setiap hari ada beberapa kata yang cukup banyak diucapkan. Yaitu kata Otsukaresamadesu(sapaan hallo teman sekerja, apresiasi terhadap jerih payah), Onegaishimasu(memohon sesuatu), dan Arigatogozaimashu(terima kasih). Otsukaresamadesu adalah sapaan ketika akan memulai pembicaraan lewat chatting. Ketika balasan otsukaresamadesu belum muncul dari orang yang diajak bicara, biasanya, orang yang memulai pembicaraan tidak akan memulai pembicaraan berikutnya. Ia akan menunggu sampai lawan bicara memberikan kata respon yang sama, otsukaresamadesu.
Ketika isi pembicaraan adalah mohon bantuan tentang sesuatu, maka kata Onegaishimasu akan sering diucapkan diakhir kalimat. Dan pembicaraan ditutup dengan kata Arigatogozaimasu, sebagai tanda terima kasih. Kata ini muncul beberapa kali dari orang yang sama dalam satu hari. Setelah pembicaraan ditutup dengan Arigatougozaimasu, maka beberapa saat ketika akan memulai pembicaraan lagi, dimulai dengan kata Otsukaresamadesu. Seolah-olah tiga kata ini tidak putus-putusnya dalam kerja seharian.

Dalam bahasa Indonesia ada kata Tolong dan Terima kasih, atau saya singkat 2T. 2T ini sangat penting dalam hidup kita, terutama bagi anda yang berperan sebagai orang tua. Dengan 2T ini, kita akan mampu melakukan komunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Ketika meminta bantuan, ucapkanlah dengan kata halus, “Tolong nak, ambilkan sendok itu.” Dan ketika pertolongan dipenuhi oleh anak-anak kita, tidak sungkan untuk juga mengucapkan, “Terima kasih, nak.” Bahkan kalau perlu ditambah juga dengan sanjungan dan pujian sebagai bentuk apresiasi terhadap bantuan yang telah dilakukannya. Orang Jepang cukup pandai dalam menyampaikan apresiasi kepada lawan bicara. Terkadang bukan cuma Arigatougozaimasu saja, akan tetapi muncul juga kata Tasukarimasita(ungkapan sangat tertolong sekali!). Kata ini pendek akan tetapi membuat orang yang menolongnya menjadi senang, karena apa yang dilakukannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Dan perasaan manfaat itu dimunculkan dihadapannya. Tidak ada orang yang tidak senang, ketika bantuannya dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Apalagi perasaan manfaat itu disampaikan dengan tulus dan ikhlas di hadapannya.

Kalimat Tolong dan Terima Kasih akan mengandung makna yang tidak nyaman, manakala kalimat ini diucapkan dengan kata yang tidak santun dan sedikit bentakan. “Toloooong dong, ambilkan sendok itu!” dengan sedikit suara bentakan. Yang datang bisa jadi bukan sendok, akan tetapi urat leher kita yang bergetar hebat, dan nafas tersengal-sengal karena kejengkelan yang disebabkan oleh tidak adanya respon dari si anak. Ditambah dengan ucapan terima kasih yang tidak muncul di mulut kita ketika bantuan dari sang anak dengan wajah cemberut dilakukannya. Maka pertolongan anak, akan dirasakan sebagai paksaan. Bahkan komunikasi akan terhenti sampai disitu. Pada saat kondisi seperti itu, orang tua sedang menghancurkan komunikasi dengan anak-anaknya. Hilanglah kesempatan melakukan komunikasi dengan prinsip 2T ini.

Seandainya Otsukaresamadesu yang diucapkan oleh pekerja Jepang tadi kita ganti dengan kata-kata yang lebih bagus dalam kosa kata bahasa Indonesia, seperti “Mas yang baik …,” atau “Anakku yang soleh …” maka kita sedang membangun komunikasi yang baik. Satu kali tidak didengar, dua kali tidak didengar, dan bahkan tiga kali tidak didengar sekalipun, kesabaran orang tua untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak sangat , sangat dan sangat diperlukan sekali. Akan tetapi ketika panggilan kedua dan ketiga sudah semakin naik nadanya, sedikit uring-uringan, bahkan ditambah dengan embel-embel “kenapa sih kalau dipanggil tidak mau dengar?!” maka pada saat itulah si orang tua sebenarnya sedang menghancurkan masa depan komunikasi dengan anak. Padahal inti dari pendidikan anak adalah komunikasi. Sedangkan komunikasi yang baik itu hanya dapat dilakukan dengan kesabaran dan kearifan yang baik.

Ketika berhadapan dengan anak-anak, orang tua harus ingat bahwa mereka adalah “Under Construction”, dalam masa pembangunan. Bisa jadi salah dan bisa jadi keliru, akan tetapi seperti bangunan pencakar langit yang dibangun menjulang ke langit, maka anak-anak pun akan mengarah kepada arah yang sama. Asal orang tua mempunyai pemahaman yang benar bahwa mereka adalah dalam kondisi “Under Construction”. Kalau ada orang tua yang tidak paham bahwa anak-anaknya dalam masa itu, maka perlu memasang di kepala anak-anak mereka sebuah tulisan dengan spidol merah, “I am Under Construction.” Unsur untuk menyempurnakan manusia-manusia yang berada dalam kondisi Under Construction ini adalah 2T ini, Tolong dan Terima Kasih. Karena itu, ucapkanlah 2T sebanyak-banyaknya, sesering-seringnya sebagai bahan komunikasi, agar bangunan mereka mengarah kepada arah yang benar dan baik.

Dalam sebuah buku kumpulan hadist yang berjudul, Provision for the Seekers, karangan Syeik Ashiqilahi Al-Bulandshehri, ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzhi dan Ahmad, “He who is not grateful to people is not grateful to Allah”. Siapa ia yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak berterima kasih kepada Allah SWT. Apa salahnya kalau orang tua memperbanyak terima kasih dengan kehadiran anak-anaknya? Sedangkan mereka telah memberikan kebahagiaan hidup bagi orang tuanya.

Semoga para orang tua selalu sabar dan diberikan kesabaran dalam mendidik anak-anak mereka. Karena mereka hadir untuk melengkapi hidup orang tuanya, agar mereka dapat memasuki jannah-Nya secara bersama-sama. Saling membantu dan menguatkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s