Wisata Hati


Suatu ketika, saya pernah melihat seorang lakilaki paruh baya berjalan di tengah teriknya jalan raya, memanggul barang dagangannya yang teramat berat. beberapa kali dia berhenti menawarkan dagangannya berupa beberapa buah guci yang tingginya hampir setengah tubuhnya. tubuhnya yang kecil dan hitam karena terbakar matahari,  sesekali disekanya keringatnya yang mengucur deras. bagaimana tidak, dia berjualan dengan cara berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak kurang lebih 20 km. padanya saya belajar arti sebuah pengorbanan..

Saya juga sering pulang ke kampung halaman suami saya, yang kebetulan masih kental dengan suasana pedesaannya. masyarakatnya sebagian besar adalah petani. mungkin sebagian besar dari ikhwah yang saya kenal berasal dari tempat-tempat seperti ini, dalam kesederhanaan dan nilai nilai kekeluargaan yang tinggi. berkunjung kesana, bagaikan sebuah wisata ruhani bagi saya. sekedar merasakan masakan ibu mertua yang pedes tapi nikmat dalam kesederhanaan.

Di sebuah desa, tak jauh dari kota mataram, tempatku membagi ilmu ilmu tarbiyahku, kutemukan sebuah arti kehidupan.  kurang lebih 5 tahun disana,terkadang saya sering absen dalam pertemuan rutin dengan mereka. pernah mencoba beralih, namun semangat mereka membawaku kembali.ibu-ibu muda yang gigih bekerja dalam segala keterbatasan mereka. pendidikan yang sangat kurang, tekanan ekonomi, suami yang sangat jauh dari akhlak islami adalah santapan mereka setiap hari. pada mereka saya banyak belajar arti kata “Bersyukur”….

Sebenarnya ilmu dan hikmah bisa kita ambil dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja, tergantung seberapa tajam mata hati kita melihat, kemudian otak mencatatnya dalam pikiran, menjadi arsip yang kita simpan dalam memori kita. ketika ujian pengorbanan datang, masalah-masalah kehidupan menghampiri sebagai sebuah sunnatullah, maka arsip arsip kehidupan itu akan terbuka untuk menguatkan…

Maka Maha Besar Allah yang telah menciptakan kita 2 mata, 2 telinga,2 kaki, 2 tangan untuk  kita lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak silaturahim dan lebih banyak berbuat (minimal menulis deh). sedangkan Allah menciptakan kita mulut hanya satu (dengan lidah tak bertulangnya)  agar kita tidak banyak “omdo”  atau  jadi “NATO” serta agar tidak kebanyakan makan kali….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s