Kupilih kau jadi jodohku


Tema pernikahan selalu menjadi menarik untuk dibahas kapan dan dimana saja terlebih oleh ikhwan-akhwat yg belum menikah dan sedang mempersiapkan jalan menuju ke sana.

Namun, saat ini trend yg sedang marak di dunia perjodohan ini adalah boleh atau tidaknya seorang ikhwan atau akhwat menunjuk calon jodohnya untuk ditaarufi.

Kita tahu, kematian, rezeki dan jodoh sudah ditetapkan waktu, tempat dan orangnya oleh Allah swt. Ketiganya sudah dipastikan oleh Allah.. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.. Cara Baik atau cara buruk.. Jodoh kita pasti dia… Tidak akan tertukar

Ada 2 cara -biasanya ikhwan- menunjuk calonnya :
1. Ikhwan yg sudah siap utk menikah memilih calonnya yang dirasa sesuai dg kriterianya baik itu atas rekomendasi teman, saudara dsbnya maupun dari interaksi dakwahnya selama ini dg si akhwat.

Setelah si ikhwan merasa cukup yakin dengan akwat tersebut, kemudian proposalnya masuk melalui murobbi dengan menunjuk nama si akhwat tadi. Ketika taaruf, bisa saja akhwatnya menolak karena alasan2 syari.. Atau berlanjut hingga ke pernkahan.

2. Ikhwan yang sudah siap menikah, berusaha mencari calonnya baik dari rekomendas teman maupun pilihan sendiri. Setelah itu mencoba mengenali (taaruf pemanasan) si akhwat baik melalui sms, chatting maupun facebook hingga si ikhwan merasa yakin bahwa dia tidak akan tertolak oleh si akhwat karena merasa telah memberikan sinyal sinyal bahkan sampai secara eksplisit menyampaikan niat utk melamar si akhwat.

Jika ada tanggapan posif dari si akhwat, proposalpun segera masuk ke murobbi. Kemudian taaruf berjalan dengan lancar krn sebelumnya sudah “janjian” ketemu ditaaruf..

Beberapa akhwat menentang cara cara seperti contoh kasus diatas. Namun, tidak sedikit juga mereka yang lmemperbolehkan seperti kasus 1 karena alasan cara tersebut tidak melanggar syariat. Namun untuk kasus ke 2 ada sesuatu yang salah yakni ada proses taaruf pribadi yang bahkan hampir menyerupai pacaran ..

Pada kasus 1, apakah salah jika ikhwan menunjuk akhwat yang sesuai kriterianya? Toh, dalam proposal pernikahan juga tercantum kriteria akhwat yg diinginkannya.. Namun tentu, saya pribadi sangat menghargai ikhwan yang dengan ikhlas memberikan kesempatan murobbinya utk berperan serta menentukan pilihan jodohnya selain orangtuanya tentunya..

Pada Kasus ke 2, ini sudah terjadi . Banyak dari mereka berhasil menjadi pasangan berbahagia, dan kamipun turut berbahagia, setidaknya fitnah itu berakhir. Namun, kami kemudian mengelus dada seraya beristigfar “inikah hasil tarbiyah itu?”

Namun, ada luka yang tertinggal di hati para akhwat2 yang selalu tegar menunggu jodoh mereka dgn sabar hingga usia hampir kepala tiga…seraya mereka berujar dlm hati “lalu siapa yang akan memilih kami??”

Saya tahu, banyak diantara akhwat2 itu yang sangat sabar akan janji Allah itu, namun tidak sedikit juga yang tak kuasa mengungkapkan rasa kecewa mereka, bukan sekedar karena takut tidak terpilih (karena mereka yakin akan jodoh) namun karena ada dampak lain yang ditinggalkan oleh ikhwan tsb.. Yakni kader2 dibawah mereka meniru apa yang dilakukan murobbi dan qiyadahnya terlebih ketika illaj kepada ikhwan -di kasus ke 2- tidak dilakukan, dibiarkan atau dianggap tidak pernah terjadi karena sudah berhasil menikahi si akhwat…. Wallahualambisshowab..

Saksikanlah ya Allah kami dari dakwah kampus dan pemuda telah berusaha bercerita tentang pemuda pemudi dakwah kami hari ini… Semoga masih ada yang mau mendengarkan dan bertindak di tengah hiruk pikuk politik dan kekuasaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s